RAGAM POTENSI KAWASAN PESISIR DAN KELAUTAN

RAGAM POTENSI KAWASAN PESISIR DAN KELAUTAN   

Dalam modul ini akan dijelaskan mengenai ragam potensi kawasan pesisir dan kelautan yang menyangkut potensi dari sumberdaya pesisir dan kelautan. Selain itu akan diuraikan pula mengenai nilai-nilai fungsional dari komponen-komponen alam wilayah pesisir dan laut serta peluang pemanfaatannya secara ekonomis.

1.4.1 Sumberdaya Terbarukan (Renewable Resources)

Potensi sumber daya pesisir dan kelautan yang bersifat terbarukan (Renewable Resources) terdiri atas, hutan mangrove, terumbu karang,padang lamun, rumput laut, perikanan, dan bahan-bahan bioaktif.

  • Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan ekosistem peralihan (ekoton) antara darat dan laut. Biota yang hidup pada ekosistem mangrove memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap parameter fisika-kimia air, seperti perubahan salinitas, pengaruh pasang-surut, substrat dasar berlumpur, dan sebagainya. Hutan mangrove umumnya terdapat di daerah tropis dan sub-tropis di kawasan pantai yang relative terlindung dan dekat estuarin hingga 100 km ke arah darat. Ekosistem mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, setidaknya tercatat 202 jenis vegetasi mangrove, terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 jenis paku. Sebagian merupakan mangrove sejati dan sebagian lainnya merupakan mangrove ikutan. Beberapa jenis yang umum dijumpai di pesisir Indonesiaadalah bakau (Rhizophora spp); api-api (Avicennia spp), pedada (Sonneratia spp), tanjang (Bruguiera spp), tengar (Ceriops spp), dan buta-buta (Exoecaria spp).

Hutan mangrove memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah:

1)     Fungsi Proteksi

  • Sebagai peredam gelombang dan angin; pelindung pantai terhadap abrasi; penahan Lumpur; dan perangkap sediment.
  • Sebagai area konservasi untuk kelestarian berbagai jenis flora dan fauna.

2)     Fungsi Ekologi

  • Penghasil detritus dari daun dan pohon mangrove yang dimanfaatkan biota sebagai materi organik.
  • Tempat asuhan (nursery ground); tempat mencari makan (feeding ground); tempat pemijahan (spawning ground); dan persinggahan sementara (shelter) berbagai jenis biota, seperti udang-udangan, kerang-kerangan, ikan, dan sebagainya.
  • Komponen penting tempat berlangsungnya aliran energi dan siklus materi.

3)     Fungsi Ekonomi

  • Penyedia kayu berkalori tinggi untuk kayu bakar atau bahan konstruksi.
  • Sumber senyawa bioaktif untuk bahanbakuobat-obatan.
  • Potensi sebagai kawasan ekowisata (Ecotourism)
  • Merupakan kawasan ideal untuk akuakultur terpadu.

Luas hutan mangrove diIndonesiamenurun secara drastis. Penurunan areal mangrove banyak disebabkan oleh penebangan untuk kayu bakar dan konstruksi; pencemaran pesisir oleh limbah dari daratan; serta konversi hutan mangrove untuk budidaya tambak dan pertanian. Hutan mangrove terluas terdapat di Irian Jaya (38%);Kalimantan(28%); dan Sumatera (19%). Pada Tabel 1.4.1 berikut dapat dilihat luas hutan mangrove diIndonesiapada tahun 1982, 1987, dan 1993.

TABEL  LUAS MANGROVE DI INDONESIA TAHUN 1982, 1987 DAN 1993 (HA)

No.

Daerah

Tahun

1982

1987

1993

1

SUMATERA

Aceh

54.335

55.000

20.000

Sumatera Utara

60.000

60.000

30.750

Sumatera Barat

3.000

1.800

Riau

276.000

470.000

184.400

Jambi

65.000

50.000

4.050

Sumatera Selatan

240.700

110.000

231.025

Bengkulu

2.100

20.000

2.000

Lampung

17.000

3.000

11.000

2

JAWA

Jawa Barat

28.513

5.700

5.000

Jawa Tengah

18.700

1.000

13.577

Jawa Timur

7.750

500

500

DKIJakarta

95

3

BALI

1.950

500

500

4

NUSA TENGGARA

Nusa Tenggara Barat

6.700

4.500

Nusa Tenggara Timur

20.700

20.700

5

KALIMANTAN

KalimantanBarat

205.400

60.000

40.000

KalimantanTengah

28.700

20.000

20.000

KalimantanSelatan

112.300

90.000

66.500

KalimantanTimur

667.800

750.000

266.800

6

SULAWESI

SulawesiUtara

27.300

10.000

4.833

SulawesiTengah

42.200

17.000

SulawesiSelatan

67.200

55.000

34.000

SulawesiTenggara

100.900

25.000

29.000

7

MALUKU

212.100

46.500

100.000

8

PAPUA

2.943.000

1.382.000

2.382.000

JUMLAH

5.209.443

3.214.200

3.489.935

  • Terumbu Karang (Coral Reef)

Terumbu karang terbentuk dari koloni massif antara hewan kecil (polyps) yang secara bertahap membentuk terumbu karang dengan mengeluarkan CaCO3 di sekitar tubuh lembutnya. Terumbu karang merupakan interaksi mutualistis antara polyps dengan alga mikroskopis sel tunggal (zooxanthellae) yang hidup pada jaringan polyps. Ekosistem terumbu karang memiliki produktifitas organic dan keanekaragaman hayati lebih tinggi dibandingkan ekosistem lainnya, selain itu ekosistem terumbu karang pun sensitif terhadap gangguan dari luar; pertumbuhannya lambat; dan hanya terdapat pada perairan yang jernih, hangat, salinitas tinggi, gelombang yang melancarkan sirkulasi air, dan tidak terjadi sedimentasi. Perbedaan bentuk terumbu karang dipengaruhi oleh kedalaman, arus, dan topografi dasar perairan.

Terumbu karang berfungsi sebagai tempat tinggal, penyedia makanan, tempat berlindung, dan tempat asuhan spesies hewan dan tumbuhan air; pelindung pantai terhadap abrasi; stabilisator perubahan morfologi garis pantai; merupakan bahan konstruksi, bahan baku industri, dan bahan perhiasan; penghasil produk bernilai ekonomis, seperti ikan karang, udang karang, alga, teripang, an kerang mutiara; serta merupakan potensi ekowisata bahari.

Keanekaragaman jenis terumbu karang diIndonesiasendiri sangat tinggi, meliputi:

  • Terumbu karang tepi (fringing reef), yang terdapat di sepanjang pantai dan mencapai kedalaman kurang dari 40 meter.
  • Terumbu karang penghalang (barrier reef), yang terdapat pada puluhan atau ratusan kilometer di lepas pantai dan dipisahkan oleh laguna dengan kedalaman 40 – 75 meter.
  • Terumbu karang cincin (atoll reef)
  • Terumbu karang tambalan (patch reef).

Di Indonesia terdapat sekitar 50.000 km2 ekosistem terumbu karang dengan tingkat tutupan karang hidup yang beragam. Tingkat tutupan karang hidup yang rendah mengindikasikan menurunnya fungsi ekosistem terumbu karang; yang disebabkan oleh penambangan batukarang, meningkatnya radiasi matahari, pemanasan global, pencemaran oleh limbah pestisida, penggunaan sianida dan dinamit dalam penangkapan ikan, dan kegiatan wisata bahari yang tidak terencana.

Selain itu di Indonesiapun dapat dijumpai sekitar 350 spesies karang keras yang termasuk dalam 75 genera. Beberapa genera yang umum dijumpai adalah Acropora; Stylopora; Pocillopora; Goniostrea; Hydnophora; Leptoria; Pavona; Seriatopora; dan Goniopora. Beberapa jenis ikan karang yang umum dijumpai adalah ikan kerapu (Ephinephelus spp); kakap (Lutjanus spp); lencam (Letbrinus spp); napoleon (Cheilinus spp); dan baronang (Siganus spp).

  • PadangLamun (Sea Grass)

Lamun adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) berbiji tunggal yang sepenuhnya menyesuaikan diri hidup di bawah permukaan laut. Tunas lamun tumbuh dari Rhizom, yaitu bagian rumput yang menjalar di bawah dasar laut. Lamun berdiri tegak, berdaun tipis, berbentuk seperti bita, berakar jalar, berbuah, dan menghasilkan biji. Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir, lunak dan tebal, sering dijumpai pada ekosistem terumbu karang. Selain itu lamun membentukpadangyang luas dan lebat di dasar laut yang masih terjangkau oleh energi cahaya matahari.

Pertumbuhan lamun membutuhkan sirkulasi air yang mampu menghantarkan zat-zat nutrient dan oksigen serta mengangkut hasil metabolisme lamun, seperti CO2 ke luar padang lamun. Selain itu lamun termasuk organisme yang memiliki produktifitas primer tinggi yaitu sebesar 1 kg c/m2/tahun. Organisme yang hidup pada ekosistem padang lamun adalah kelompok Invertebrata : Moluska (pinna, lambis, dan strombus); kelompok Echinodermata: teripang (holoturia) dan bulu babi (diadema), bintang laut (archaster, linckia), dan crustacea: kepiting dan udang.

Fungsi daripadanglamun adalah sebagai berikut:

  • Sistem perakaran lamun yang padat dan saling menyilang dapat menstabilkan dasar laut.
  • Sebagai perangkap sedimen yang diendapkan dan distabilkan.
  • Menjaga kualitas air laut melalui proses pengenceran (dilution), penyaringan (filtration), dan pengendapan sediment (settling out of sediments, excess nutrients, and pollutants).
  • Sebagai daerah penyangga pantai terhadap abrasi dan erosi.
  • Sebagai makanan dan tempat penggembalaan (grazing ground) bagi ikan duyung, penyu laut, bulu babi, dan sebagainya.
  • Sebagai tempat asuhan dan berpijah ikan dan udang.
  • Sebagai bahan makanan dan pupuk.
  • Sebagai sumber senyawa bioaktif untuk bahan obat-obatan, makanan, dan kosmetika.

Pada Tabel berikut dapat dilihat jenis dan penyebaran lamun di perairanIndonesia.

TABEL JENIS DAN PENYEBARAN LAMUN DI PERAIRAN INDONESIA

SUKU

JENIS

SEBARAN

1

2

3

4

5

Potamogetona   ceae

Halodule universis

+

+

+

+

+

Halodule pinifolia

+

+

+

+

+

Cymodocea rotundata

+

+

+

+

+

Cymodocea semulata

+

+

+

Syringodium isoetifolium

+

+

+

+

+

Thalassodendron ciliatum

+

+

+

Hydrocharita  ceae

Enhalus acoroides

+

+

+

+

+

Halophila beccari

?

?

?

?

?

Halophila deipieceae

Halophila minor

+

+

+

+

+

Halophila ovalis

+

+

+

+

+

Halophila spinulosa

+

+

+

Thalassia hemprichii

+

+

+

+

+

Keterangan       :  (+)  ada                                  1:  Sumatera

                           (-)   tidak ada                          2:  Jawa,Bali,Kalimantan

                           (?)  diduga dijumpai                3: Sulawesi

4:  Maluku, Nusa Tenggara

5:  Irian Jaya

 Rumput Laut (Algae)

Rumput laut atau Algae merupakan bahan makanan dan obat-obatan. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia masih bersifat tradisional. Selain itu potensi budidaya rumput laut di Indonesia mencakup areal seluas 26.700 Ha, dengan produksi sebesar 482.400 Ton/Tahun, yaitu di Kepulauan Seribu, Lombok, Bali, Pulau Samaringa (Sulawesi Tengah), Pulau Telang (Riau), Teluk Lampung, Flores, dan Sumba, terutama untuk jenis Euchema spp dan Gracilaria.

Jenis yang umum dijumpai adalah Euchema spinosum  (di Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara); Gelidium Spp (Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jawa Barat, Bali, dan Nusa Tenggara); Gracilaria (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Maluku); Hypnea Spp (seluruh Indonesia); Sargassum; dan Turbinaria.

  • Perikanan Laut dan Budidaya Perikanan

Perikanan laut dikelompokkan menjadi:

  • Ikan Pelagis, yang sebagian besar hidupnya berada di perairan bebas (kolom air) dekat permukaan air. Luas sebaran ikan pelagis besar adalah 5.353.200 km2 dengan densitas rata-rata 3,41 ton/km2. Termasuk ikan pelagis besar adalah:
    • Ikan Tuna, Tongkol, Cakalang, Tenggiri, Setuhuk, Cucut, Ikan Pedang, dan Ikan Layangan.
    • Sebaran Tuna dan Cakalang seluas 4.158.000 km2 di Samudera Hindia, Selat Makassar – Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram – Teluk Tomini, Laut Arafuru, dan Laut Sulawesi – Lautan Pasifik
    • Sebaran ikan Tongkol seluas 4.820.000 km2 di Samudera Hindia, Laut Jawa, Selat Makassar – Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru, dan Laut Sulawesi – Lautan Pasifik.
    • Sebaran ikan Tenggiri seluas 4.558.000km2 di Samudera Hindia, Laut Jawa, Selat Makassar – Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram – Teluk Tomini, Laut Arafuru, dan Laut Sulawesi – Lautan Pasifik.
    • Sebaran ikan Setuhuk, Cucut, Ikan Pedang, dan Ikan Layangan seluas 4.158.000 km2 di Samudera Hindia, Selat Makassar – Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram – Teluk Tomini, Laut Arafuru, dan Laut Sulawesi – Lautan Pasifik.
    • Sementara itu yang termasuk ikan pelagis kecil adalah:
    • Ikan alu-alu, layang, selar, tetengket, daun bamu, sunglir, julung-julung, teri, japuh, tembang, lemuru, parang-parang, terubuk, kembung, terbang, belanak, siro, dan kacang-kacang.
    • Sebaran dari ikan pelagis kecil adalah seluas 3.433.000 km2 dengan densitas rata-rata 19,40 ton/km2, dan tersebar di seluruh perairanIndonesia, terutama Laut Jawa, Selat Sunda, Laut Flores, Selat Malaka, Laut Arafuru, dan Samudera Hindia.
    • Tingkat pemanfaatan ikan pelagis kecil pada saat ini telah melampaui potensi lestarinya.
  • Ikan Demersal, yang sebagian besar masa hidupnya berada atau dekat dengan dasar perairan. Potensi terbesar dari ikan demersal terdapat di laut Natuna – Laut Cina Selatan, Laut Jawa – Selat Sunda, dan Laut Arafuru. Sementara itu tingkat pemanfaatan ikan Demersal di Laut Banda, Selat Malaka, dan Samudera Hindia telah melampaui potensi lestarinya. Sebaran ikan demersal adalah seluas 1.726.000 km2 dengan densitas rata-rata 16,56 ton/km2, yang meliputi: ikan perepek, bloso, manyung, biji nangka, kurisi, swangi, gulamah, bawal, layur, senangin, lencam, kakap merah, kakap putih, pari sembilang, bintal, landak, kuwe, gerot-gerot, bulu ayam, kerong-kerong, payus, etelis, dan remang.
  • Ikan Karang, yang kehidupannya terikat dengan ekosistem terumbu karang. Sebaran ikan karang adalah seluas 1.880.000 km2 dengan densitas rata-rata 1,31 ton/km2, yang meliputi: ikan kerapu tikus, kerapu bebek, kerapu macan, kakap batu, kakap merah, lencam, napoleon, baronang, ekor kuning dan bibir tebal. Potensi terbesar terdapat di Laut Flores – Selat Makassar, Laut Banda, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, Laut Jawa, Laut Seram – Teluk Tomini, dan Laut Sulawesi – Lautan Pasifik.
  • Ikan lain yang penting adalah udang-udangan, terutama udang Penaeid, seperti udang Windu, udang putih/jerbung, dan udang doogol. Sebaran dari udang-udangan ini banyak terdapat di Laut Jawa, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, danLaut Arafuru. Sebaran ikan jenis ini meliputi wilayah seluas 594.500 km2 dengan densitas rata-rata 2,33 ton/km2.

Pada Tabel 1.4.3 berikut dapat dilihat potensi dan jumlah tangkapan ikan di perairanIndonesiadan ZEEI pada Tahun 1998 dan 2001.

TABEL  POTENSI DAN JUMLAH TANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN INDONESIA DAN ZEEI TAHUN 1998 DAN 2001

No.

WPP

JENIS IKAN

POTENSI (Ribuan Ton/Th)

TANGKAPAN (Ribuan Ton/Th)

1998

2001

1998

2001

1

Selat Malaka

Pelagis kecil

119,6

147,30

95,7

132,70

Pelagis besar

23,2

27,67

18,6

35,27

Demersal

82,4

82,40

65,9

146,23

Udang

11,8

11,40

9,4

49,46

Ikan lainnya

2,2

7,26

1,7

25,62

2

Laut Jawa dan Selat Sunda

Pelagis kecil

340,0

340,00

272,0

507,53

Pelagis besar

55,0

55,00

44,0

137,82

Demersal

431,2

375,20

345,0

334,20

Udang

11,3

11,40

9,0

52,86

Ikan lainnya

14,5

15,04

11,6

61,28

3

Laut Natuna dan Laut Cina Selatan

Pelagis kecil

506,0

621,50

404,8

205,56

Pelagis besar

54,8

66,08

43,9

35,16

Demersal

655,7

334,80

524,6

54,69

Udang

11,6

10,00

9,3

70,51

Ikan lainnya

24,3

24,67

19,5

14,01

4

Laut Flores dan Selat Makassar

Pelagis kecil

467,5

605,44

374,0

333,35

Pelagis besar

99,1

193,60

79,2

85,10

Demersal

87,2

87,20

68,8

167,38

Udang

5,5

4,80

4,4

30,91

Ikan lainnya

19,3

19,96

15,4

32,71

5

Laut Maluku dan sekitarnya

Pelagis kecil

378,8

379,44

303,0

119,43

Pelagis besar

106,6

106,51

85,3

37,46

Demersal

83,8

83,84

67,0

21,14

Udang

1,2

0,9

0,9

1,10

Ikan lainnya

16,6

20,11

13,3

7,50

6

Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik

Pelagis kecil

393,5

384,75

314,8

62,45

Pelagis besar

236,2

175,26

189,0

153,43

Demersal

54,9

54,86

43,9

15,31

Udang

2,8

2,50

2,2

2,18

Ikan lainnya

4,0

4,35

3,2

3,74

7

Samudera Hindia

Pelagis kecil

429,7

526,57

343,8

264,56

Pelagis besar

323,6

386,26

258,8

188,28

Demersal

135,1

135,30

108,1

134,83

Udang

12,5

10,70

10,1

10,24

Ikan lainnya

16,6

18,23

13,3

25,87

8

Laut Banda

Pelagis kecil

132,0

132,00

105,6

146,67

Pelagis besar

104,1

104,12

83,3

29,10

Demersal

9,3

9,32

7,4

43,20.

Udang

0,4

0,40

0,3

0,01

Ikan lainnya

2,6

32,05

2,1

9,70

9

Laut Arafuru

Pelagis kecil

468,7

468,66

375,0

12,31

Pelagis besar

50,9

50,86

40,7

34,53

Demersal

246,8

202,34

197,4

156,80

Udang

21,5

43,10

17,2

36,67

Ikan lainnya

4,2

6,50

3,3

26,02

J u m l a h

Pelagis kecil

3.235,8

3.605,66

2.588,7

1.784,33

Pelagis besar

1.053,5

1.165,36

842,8

736,17

Demersal

1.786,4

1.365,09

1.428,1

1.085,50

Udang

78,6

94,80

62,7

259,94

Ikan lainnya

104,3

178,30

83,4

203,48

J u m l a h

6.258,6

6.409,21

5.005,7

4.069,42

Sumber : Ditjen Perikanan, Dep. Kelautan & Perikanan

Sementara itu berdasarkan wilayah sebarannya serta potensi sumber daya perikanan, maka pada Tabel  berikut dapat dilihat peluang pengembangan perikanan laut berdasarkan potensi dan tingkat pemanfaatan ikan berdasarkan wilayah sebaran serta jenis ikan.

TABEL  PELUANG PENGEMBANGAN PERIKANAN LAUT BERDASARKAN POTENSI DAN TINGKAT  TEMANFAATAN IKAN

No.

WPP

JENIS IKAN

1

Laut Cina Selatan

Ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, dan ikan demersal

2

Selat Makassar dan Laut Flores

Ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil

3

Laut Banda

Ikan pelagis besar

4

Laut Seram dan Teluk Tomini

Ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, dan ikan demersal

5

Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik

Ikan pelagis kecil dan ikan demersal

6

Laut Arafuru

Ikan pelagis kecil

7

Samudera Hindia

Ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil

Sementara itu budidaya perikanan memiliki beberapa karakteristik. Diantaranya adalah budidaya perikanan pesisir dan laut yang terdiri dari:

  • Budidaya berbasis laut (marine-based agriculture)
  • Budidaya tambak (land-based agriculture)

Komoditas  yang dapat dibudidayakan adalah ikan kerapu (Epinephelus sp), ikan kakap (Lutjanus sp) ikan baronang (Siganus sp), Mutiara, Moluska (Oyster), Simping (Scallops), dan Remis (Clams). Selain itu komoditas lainnya adalah udang-udangan (Penaeus monodon), ikan bandeng (Chanos chanos), kerang darah (Anadara granosa), kerang hijau (Mitilus sp), teripang, rumput laut (Euchema sp), mutiara, dan beberapa jenis moluska. Potensi lahan budidaya tambak diIndonesia sekitar 913.000 Ha, dimana sekitar 23% telah dimanfaatkan. Peluang pengembangan budidaya tambak diIndonesia mencakup beberapa wilayah seperti Sumatera Utara, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua.

Pada Tabel berikut dapat dilihat luas dan produksi budidaya tambak menurut propinsi, pada tahun 1998 dan 1999.

TABEL LUAS DAN PRODUKSI BUDIDAYA TAMBAK MENURUT PROPINSI TAHUN 1998 DAN 1999

No.

PROPINSI

LUAS (HA)

PRODUKSI (TON)

1998

1999

1998

1999

1

NAD

40.057

40.125

13.975

20.967

2

Sumatera Utara

9.104

5.875

14.217

16.873

3

Sumatera Barat

4

Riau

373

409

208

297

5

Jambi

506

886

400

784

6

Sumatera Selatan

165

185

5.210

4.738

7

Bengkulu

454

266

437

658

8

Lampung

51.488

52.547

31.156

29.205

9

DKIJakarta

10

Jawa Barat

34.312

55.584

63.494

63.470

11

Jawa Tengah

25.982

25.982

35.654

45.313

12

DI Yogyakarta

13

Jawa Timur

59.037

591.938

74.483

83.223

14

Bali

627

4.301

1.104

881

15

NTB

5.601

11.159

7.162

6.954

16

NTT

262

422

176

785

17

KalimantanBarat

1.367

22.275

1.442

1.178

18

KalimantanTengah

755

89

19

KalimantanSelatan

4.489

4.862

1.508

2.237

20

KalimantanTimur

13.300

13.300

7.675

14.476

21

SulawesiUtara

701

705

149

170

22

SulawesiTengah

6.279

6.279

6.115

3.970

23

SulawesiSelatan

90.608

94.846

79.738

107.387

24

SulawesiTenggara

11.985

11.827

8.846

8.654

25

Maluku

497

497

204

204

26

Papua

137

191

397

472

s

357.331

3393.196

353.750

412.935

Sumber : StatistikIndonesia

  • Bahan-bahan Bioaktif

Bahan-bahan bioaktif (Bioactive substances) adalah berbagai bahan kimia yang terkandung dalam tubuh biota laut. Bahan-bahan bioaktif ini merupakan potensi bagi penyediaan bahan baku industri farmasi,kosmetika, pangan, dan industri bioteknologi lain. Pemanfaatan bahan-bahan bioaktif di Indonesia sendiri masih terbilang rendah. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia telah memanfaatkan potensi bioaktif sperti Omega-3, Sun Chlorella, dan sebagainya.

1.4.2       Sumberdaya tidak terbarukan (Non Renewable Resources)

Berdasarkan jenisnya, maka sumber daya tidak terbarukan (Non Renewable Resources) terdiri atas:

  • Bahan mineral Kelas A (mineral strategis): migas dan batubara.
  • Bahan mineral Kelas B (mineral vital): emas, timah, nikel, bauksit, bijih besi, dan kromit)
  • Bahan mineral Kelas C (mineral industri): granit, kapur, tanah liat, kaolin dan pasir.

Potensi sumberdaya mineral di wilayah pesisir (coastal land) dan gisik pantai (beach) adalah pasir, batu kerikil, batu belah, emas, batu apung (pumice), Radioactive mineral (zircon), garam, pasir besi (iron sand), Titanium, dan pasir laut. Sementara itu potensi sumberdaya mineral di perairan laut dangkal (nearshore) adalah pasir, kerikil, lempung kaolin, pasir kuarsa, batu apung, radioactive mineral, emas, siderit, kromit/kromium, pasir besi, sediment karbonat, endapan timah (kasiterit), dan mineral berat.

Potensi sumberdaya mineral di wilayah pesisir (onshore) dan lepas pantai (offshore) adalah minyak dan gas bumi. Sumberdaya migas umumnya ditemukan pada endapan tersier tradisional, misalnya saja minyak bumi yang ditemukan pada cekungan sedimen. Di Indonesia terdapat 60 cekungan sedimen, dimana 21 cekungan berada di kawasan Barat Indonesia. Sebanyak 38 cekungan telah dieksplorasi, dan 14 diantaranya telah berproduksi; 10 cekungan belum berproduksi, dan sisanya terdapat di daerah frontier yang belum mencatat penemuan. Sehingga total potensi migas pada 60 cekungan diperkirakan mencapai 66,8 milyar barrel minyak bumi dan 266,7 trilyun kaki3 gas bumi. Secara keseluruhan cadangan minyak bumi Indonesia adalah sebesar 9,4 milyar barrel dan produksi alam Indonesia sebesar 123,6 trilyun kaki3 dan produksi sebesar 8,5 milyar kaki3 per hari.

Pada Tabel 1.4.6 dan Tabel 1.4.7 berikut dapat dilihat cadangan serta produksi minyak bumi dan gasIndonesiapada tahun 1991 –  1995. 

TABEL CADANGAN DAN PRODUKSI MINYAK BUMI INDONESIA TAHUN 1991 – 1995

TAHUN

CADANGAN (Milyar Barrel)

PRODUKSI (Barrel)

TERBUKTI

POTENSIAL

JUMLAH

1991

6,0

5,0

11,0

580.937.291

1992

5,8

5,5

11,3

550.668.189

1993

5,6

4,8

10,4

557.660.532

1994

5,2

4,3

9,5

588.364.267

1995

5,0

4,1

9,1

586.763.822

Sumber : Ditjen Migas

 TABEL  CADANGAN DAN PRODUKSI GAS ALAM INDONESIA TAHUN 1991 – 1995

Tahun

Cadangan (Trilyun Kaki Kubik)

Produksi/Hari

Pemanfaatan

Terbukti

Potensial

Jumlah

(Ribu Kaki Kubik)

1991

65,3

39,0

104,3

2.461.822,9

2.258.884.144

1992

64,4

37,3

101,7

2.582.640,8

2.365.262.457

1993

67,5

46,7

114,2

2.661.878,3

2.450.986.896

1994

78,9

45,9

124,8

2.941.622,0

2.760.076.223

1995

72,3

51,3

123,6

2.999.229,4

2.839.398.836

Sumber : Ditjen Migas

Pada Tabel 1.4.8 berikut dapat dilihat penyebaran, potensi, dan tingkat pemanfaatan sumberdaya mineral laut pada Tahun 1987.

TABEL PENYEBARAN, POTENSI, DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA  INERAL LAUT TAHUN 1987

No.

JENIS

LOKASI

POTENSI

PEMANFAATAN

1

Minyak bumi

Lepas pantai

3 milyar barrel

NA

2

Gas alam

Lepas pantai

5 milyar barel setara minyak bumi

NA

3

Timah

Bangka,Belitung, Singkep, Karimun, dan Kundur

NA

NA

4

Mineral radioaktif

Bangka,Belitung, Singkep, Karimun, dan Kundur

NA

NA

5

Khrom

Pantai TimurSulawesi

NA

NA

6

Fosfor

Selatan Timor

NA

NA

7

Logam (Fe, Mn, Cu, Ni)

Kep. Sangihe dekat Gunung Awu

NA

NA

8

Bijih besi

Pantai Selatan Jawa, Pantai Barat Sumatera

NA

NA

9

Mangan

Pantai Barat Sumatera, Selatan Lombok, Laut Banda, Pulau Damar, Utara Menado, Utara Halmaghera, Utara Kepala Burung Papua

NA

NA

Sumber : Katili dan Hartono, 1987; The Marine & Coastal Sector Definition Mission, 1987

  • Jasa Lingkungan (Environmental Services)
    • Industri maritim dan perhubungan laut:
    • Industri pembuatan kapal
    • Industri pemeliharaan dan perbaikan kapal
    • Industri komponen kapal
    • Industri prasarana lepas pantai
    • Industri pemecah kapal
    • Industri pelayaran
  • Pariwisata bahari
    • Wisata selam
    • Pantai pasir putih
    • Tamanlaut
    • Rekreasi pantai dan laut
  • Energi Kelautan
    • Konversi energi panas samudera (Ocean thermal energy conversion)
    • Energi gelombang (wave)
    • Endapan gambut
    • Panas bumi (geothermal)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s