SYSTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH – LIPPO KARAWACI

Berikut presentasi system Pengelolaan Air Limbah pada kawasan perumahan Lippo Karawaci dari tahap Perencanaan, Operasi, Pengawasan Kualitas, Struktur Organisasi Pengelola, Biaya Investasi & Operasi, Tantangan/ Kendala, Manfaat Lingkungan. System Pengelolaan Air Limbah ini merupkan best practices yang dapat dicontoh oleh daerah lain baik kota atau kawasan perumahan dalam mengelola system pengelolaan air limbah.

System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci

System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci
System Pengelolaan Air Limbah - Lippo Karawaci

(Sumber: Workshop Inovasi dan Peluang Investasi Air Limbah, Departemen Pekerjaan Umum – Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum di Jakarta, 14 Desember 2009)

KUALITAS DATA CITRA LANDSAT ETM PADA PERUBAHAN GUNA LAHAN RTH DENGAN MENGGUNAKAN SCATTERGRAM (Studi Kasus: Pemukiman Kotamadya Surabaya)

Oleh:
Teguh Hariyanto1), Abdul Wahid Hasyim2),,M. Taufik1), Haryo Sulistyarso3)
teguh_hr@geodesy.its.ac.id, http://awhasyim.wordpress.com/,
taufik_srmd@yahoo.com, fiefa07@yahoo.com

Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil FTSP-ITS, bidang Penginderaan Jauh
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya Malang, sedang menempuh S3 Penginderaan Jauh di Institut Teknolologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya,
Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil FTSP-ITS, bidang PWK

Abstraksi

Pantulan spectral dan panjang gelombang dapat menunjukkan dan membedakan material permukaan lahan misalnya: air, lahan kering, dan tumbuhan. Spectral adalah daya pisah objek berdasarkan besar spektrum elektromagnetik yang digunakan untuk perekaman data dan mempengaruhi besarnya radiometrik (derajat keabuan).
Citra Landsat ETM (Enhanced Thematic Mapper) memiliki keunggulan saluran pankromatik (0,50-0,90) μm dengan resolusi 15x15m dari citra Landsat TM (Thematic Mapper) pendahulunya, namun memiliki kemampuan relatif sama pada saluran-salurannya, yaitu menggunakan panjang gelombang tampak (visible), inframerah dekat (NIR), inframerah pendek (MIR), dan inframerah termal (TIR). Berdasarkan pantulan materi (spectrum) dan panjang gelombangnya, perubahan guna lahan pada tutupan lahan (land cover) dapat diinformasikan melalui salah satu saluran terkuatnya diantara 7 saluran (band) yang ada. Seperti pada website http://landsat.gsfc.nasa.gov (2011), bahwa citra landsat saluran 1, 2, dan 3 dinyatakan mampu mendeteksi bangunan buatan (man-made feature identification) dibanding saluran lainnya.
Menggunakan metode klasifikasi Maximum Likelihood dan teknik overlay pada SIG diperoleh hasil klasifikasi pemukiman tahun 2002 seluas 63,16 Km², dan tahun 2009 seluas 79,30 Km², atau terjadi perluasan pemukiman seluas 16,15 Km² (20,36%) dan merubah guna lahan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 3,4 Km².

Kata kunci: Kualitas Data Citra, Perubahan Guna Lahan, Scattergram

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Tidak selalu perekaman data citra menghasilkan kualitas citra yang prima, oleh sebab itu pada citra Landsat ETM yang akan digunakan terdapat informasi, salah satunya adalah besar prosentase tutupan awan pada citra yang selanjutnya tergantung pilihan apakah akan digunakan atau tidak. Pada penelitian ini dipilih citra Landsat ETM dengan tutupan awan dibawah 10% agar tidak terlalu banyak informasi yang hilang dan mendekati kondisi tutupan lahan sebenarnya.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang 1.5% tiap tahun hingga tahun 2009 telah mencapai jumlah penduduk 3 jutaan jiwa. Dampak langsungnya kebutuhan pertumbuhan pemukiman mengalami kemajuan yang pesat mengikuti pertambahan jumlah penduduk. Melalui teknologi penginderaan jauh dan SIG, perubahan guna lahan berupa kawasan pemukiman baru sejak tahun 2002 hingga 2009 dapat teridentifikasi.
Kota Surabaya yang memiliki luas 335.4Km², merupakan kota terbesar ke dua memiliki daya tarik bagi pendatang sebagai pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur, yang tidak jarang akhir-akhir ini mengalami permasalahan perkotaan akibat beban kota yang meningkat. Disusulah pertanyaan penelitian berikut; Bagaimanakah pertumbuhan pemukiman dan perubahan guna lahannya sejak tahun 2002 hingga 2009, berdasarkan data citra Landsat ETM?

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah memanfaatkan data citra Landsat ETM dengan tutupan awan < 10% untuk menghasilkan klasifikasi dan memperoleh informasi perubahan guna lahan pada pemukiman lebih akurat.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pertambahan luas pemukinan terhadap perubahan guna lahan RTH, dan kualitas data citra yang digunakan.

1.3 Lingkup Pembahasan
Menganalisis klasifikasi pemukiman terhadap kualitas data citra yang digunakan dengan menggunakan scattergram.
Melanjutkan penelitian yang dilakukan (M.Taufik, dkk, 2011) dengan menghitung perubahan guna lahan RTH tahun 2002 pada kawasan pemukiman tahun 2009.

2. Dasar Teori
2.1 Pertumbuhan Pemukiman dan Perubahan Guna Lahan

Kota yang tumbuh dan semakin besar membutuhkan pemukiman yang semakin tinggi seiring dengan bertambahnya kegiatan akibat jumlah penduduk yang meningkat. Seperti dalam sejarah kota-kota di Amerika yang tumbuh karena pengaruh PemDa setempat dan dikuasai oleh sekelompok atau golongan yang berkepentingan terhadap pengembangan pemukiman; banyak penduduk, berarti banyak tawaran kerja, dan akan banyak pembangunan pemukiman: (Eben Fodor, 2001)
…… more people, more jobs, and more real estate development….. Local democracy has-been dominated by “growth coalitions,” composed of individuals and enterprises with a direct stake in real estate development.
Kebutuhan pemukiman yang tinggi menjadi tekanan sosial-ekonomi dalam kehidupan diperkotaan yang akan mempengaruhi kecepatan perubahan dan pola ruang guna lahan ( Peter H. Verburga,b, Paul Schota, Martin Dijsta, A. Veldkampb, 2002, Johara T Jayadinata, 1999).

2.2 Deteksi Material Tutupan Lahan
Teknologi penginderaan jauh sangat bergantung pada pantulan spectral dan panjang gelombang yang dapat menunjukkan dan membedakan material tutupan lahan misalnya: air, lahan kering, dan tumbuhan. Selanjutnya dikembangkan untuk mengenali material lain yang lebih beragam tergantung kebutuhannya. Spectral adalah daya pisah objek berdasarkan besar spektrum elektromagnetik yang digunakan untuk perekaman data dan mempengaruhi besarnya radiometrik (derajat keabuan). Pada gambar 1, terdapat hubungan antara pantulan spectrum (reflectance %) terhadap panjang gelombang (wavelenght μm) yang menunjukkan jenis tutupan lahannya. Kisaran panjang gelombang dan pantulan spectrum yang tidak tetap menunjukkan kadar perubahan tutupan lahan yang berbeda sehingga menjadi celah pada penelitian ini untuk diamati.


Gambar 1. Nilai Pantulan Spectral (%) terhadap 3 material: Tumbuhan, Lahan kering, dan Air.
(Sumber: Brandt Tso, Paul Mather, 2009)

2.3 Menggunakan Scattergram
Salah satu cara melihat kualitas data citra secara statistik yang berformat grafik dapat menggunakan scattergram. Scattergram merupakan teknik atau cara menilai kualitas data dan karakteristik sebaran (lokasi) contoh latihan atau contoh kawasan (training area) didalam suatu citra secara geografis (ErMapper, 2006) pada sebuah plot X-Y dengan menunjukkan nilai data antara hubungan dua buah band pada suatu citra.
Karakterisitik tiap band memiliki keunggulan berbeda satu dengan lainnya sesuai dengan kapasitas panjang gelombang () yang mampu direkamnya. Saluran (band) pada citra Landsat ETM memiliki karakteristik sebagai berikut http://landsat.gsfc.nasa.gov (2011);
Band 1: 0.45 – 0.52 μm (biru). Digunakan untuk memetakan kawasan pesisir, tanah/ membedakan jenis tanaman, klasifikasi hutan, dan identifikasi buatan manusia (bangunan, jalan dll.).
Band 2: 0.52 – 0.60 μm (hijau). membedakan jenis dan memantau kesehatan tanaman, identifikasi buatan manusia.
Band 3: 0.63 – 0.69 μm (merah) Identifikasi jenis tanaman, identifikasi buatan manusia
Band 4: 0.76 – 0.90 μm (inframerah dekat). Memantau kelembaban tanah, tanaman, tubuh air (sungai, tambak, danau, dll)
Band 5: 1.55 – 1.75 μm (inframerah pendek). Memantau kadar air pada tanaman
Band 6: 10.4 – 12.5 μm (inframerah termal). Indentifikasi suhu permukaan, memantau; tanaman rusak, kelembaban tanah, awan, gunung berapi
Band 7: 2.08 – 2.35 μm (inframerah pendek). Identifikasi mineral dan jenis batuan, kadar air pada tanaman.


Gambar Karakteristik Band

3. Metodologi
3.1 Lokasi Penelitian

Sebagai kota terbesar di Jawa Timur, Kota Surabaya menghadapi berbagai tuntutan pembangunan mengingat jumlah penduduk yang berkisar 3 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1.5%/tahun menjadikan kegiatan perkotaan semakin meningkat (http://www.surabaya.go.id/dispenduk/?view=artikel&id=1, 2010). Salah satu kebutuhan pembangunan adalah pemukiman guna memenuhi kebutuhan mendasar hidup di kota. Kebutuhan perluasan pemukiman meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Pertimbangan lain dipilihnya Kota Surabaya sebagai tujuan lokasi penelitian adalah ketersediaan data citra Landsat 7 ETM tahun 2002 dan 2009

3.2 Alat dan Bahan
PC Intel(R) Core (TM)2 Duo, E4600 @ 2.4 Ghz
GPSMap 60 Csx
Software Mapsource v 6.15.1
ErMapper v7.1
ArcGIS 9.3 dan ArcView 3.3
Citra Landsat 7 ETM tahun 2002 dan 2009

3.3 Metode
Menggunakan klasifikasi terawasi berdasarkan kemiripan maksimum (Maximum Likelihood) pada tiap piksel yang tidak dikenalnya. Melalui perhitungan statistik (rerata variance/covariance), fungsi probabilitas (Bayesian), contoh latihan (training area/ sites) setiap piksel dipastikan masuk dalam kelas yang mana (Brandt Tso, Paul Mather, 2009). Ditulis dengan formula sebagai berikut:

Dimana, nilai Pr (probability) dari w_j (bobot terpilih yang terbesar j) pada vektor x.

3.4 Pengolahan Citra Landsat 7 ETM
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian lain (M. Taufik, dkk, 2011), dengan tahapan kegiatan sedikit berbeda pada uji scattergram (gambar 3.1).


Gambar 3.1 Proses pengolahan Citra

3.5 SLC- OFF Pada Citra Landsat ETM Tahun 2009
Untuk mengisi data citra yang hilang (filling scan gap) sekitar 22% pada piksel dengan tepat, digunakan metode dengan asumsi,
Y≈GX+B
dimana,
Y= bagian utama yang terkena SLC off
G= pengisian histrogram pada citra utama yang terhapus
X= bagian citra pengisi (SLC on)
B= data bias histogram pada citra utama yang terhapus
Seperti yang dilakukan pada citra yang direkam tahun 2009, gambar 3.2a menunjukkan garis-garis hitam sangat jelas yang merupakan data hilang. Pada proses ini proyeksi dan pemotongan wilayah studi (subset) dilakukan setelah pengisian data (gap filling) seperti pada gambar 3.2b.


Gambar 3.2. SLC Off Landsat 7 ETM+ tahun 2009 (a) dan Hasil Gap Filling (b)

4. Hasil dan Diskusi
4.1 Kelas Pemukiman di Perkotaan

Pemukiman merupakan salah satu faktor fasilitas kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai elemen perkotaan (Djoko Sujarto,1982; dalam AWHasyim, 1995). Ketertarikan tinggal di perkotaan menjadi sangat kuat (pull forces) karena berbagai kemudahan ditawarkan, antara lain: pusat hiburan, pusat komersial, pusat pendidikan, tempat kerja, transportasi, dll. Dirumuskan sebagai berikut (François Durand-Dastès, 2007): Pada rumus tersebut mengasumsikan terdapat sejumlah Intensitas (I) saling hubung antara 2 kawasan i dan j yang merupakan hasil dari sekumpulan Populasi (P) yang berbanding terbalik dengan Jaraknya (d).

Melalui teknologi penginderaan jauh dilakukan pemilihan kawasan latihan atau sering disebut contoh latihan (training area) pada tahap awal klasifikasi untuk mengetahui besar pertumbuhan pemukiman. Kelas-kelas lain dibuat sesuai tutupan lahan sebagai faktor lain selain pemukiman, seperti pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Luas Kelas Tahun 2002 dan 2009

4.2 Kualitas Data Citra dan Perubahan Guna Lahan
Sebelum dilakukan uji kualitas data citra terlebih dahulu dilakukan penghitungan statistik pada data citra agar diketahui hubungan kekerabatan antar band, jika tidak dapat terjadi kesalahan persepsi terhadap hubungan antar band yang seharusnya memiliki potensi pengaruh. Band yang digunakan adalah 1,2,3,4,5,dan7, band 6 tidak digunakan dalam penelitian ini. Diperoleh hubungan pengaruh antar band sebagai berikut (dipilih korelasi mendekati 1).

Tabel 4.2 Band Berkorelasi Kuat

Selanjutnya diuji menggunakan scattergram pada tutupan lahan pemukiman tahun 2002 dan 2009 seperti pada gambar 4.1. Setelah dilakukan uji terhadap band-band terkuat berpengaruh. Gambar 4.1 (A) kelas pemukiman pada citra Landsat ETM tahun 2002 sangat dipengaruhi band-1, sedangkan pada tahun 2009 kelas pemukiman sangat dipengaruhi band-5 terhadap sebaran pikselnya yang ditandai batas ellips.


Gambar 4.1 (A) Kelas Pemukiman Oleh Band 1 Tahun 2002, (B) Kelas Pemukiman Oleh Band 5 Tahun 2009.

Perubahan guna lahan terjadi sebagai akibat perluasan pemukiman tahun 2002 seluas 63,16 Km² (gambar 4.2.A) menjadi 79,30 Km² (gambar 4.2.B) pada tahun 2009 atau terjadi peningkatan sebesar 20,36% (gambar 4.2.Cdan D) atau seluas 16,15 Km² . Kebutuhan lahan untuk kegiatan pemukiman tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan guna lahan RTH (Ruang Terbuka Hijau) seluas 3,4 Km² (gambar4.2. E dan F).


Gambar 4.2 Tutupan Lahan Pemukiman dan Perubahan Guna Lahan RTH


Gambar 4.3 Penjelasan Gambar D dan F

5. Kesimpulan
Kualitas data citra Landsat ETM, saat dilakukan uji pada training area pemukiman menunjukkan data citra tahun 2002 sesuai dengan karakter yang dimiliki band1 (0.45 – 0.52 μm), sedangkan data citra tahun 2009 pada kelas yang sama menunjukkan sebaran piksel dipengaruhi oleh band5 (1.55 – 1.75 μm) yang memiliki karakter mendeteksi kandungan air pada vegetasi. Dapat disebabkan adanya gangguan pada besar pantulan obyek (reflectance) yang diterima oleh sensor perekam. Gangguan dapat berupa tutupan awan ataupun cuaca (Forster, B.C., 1985), pada citra Landsat ETM 2009 terdapat tutupan awan sebesar 6.7%.
Berdasarkan pola sebaran umumnya, perluasan pemukiman (gambar 4.2.Cdan D) mengikuti ketersediaan prasarana jalan, hal tersebut akan sangat jelas terlihat apabila dilakukan overlay pada peta prasarana jalan tahun 2002. Beberapa kawasan baru dengan prasana jalan baru juga tampak bila dipadukan dengan ketersedian prasarana jalan tahun 2009.
Terdapat perubahan guna lahan RTH tahun 2002 yang cukup besar dari luas 57,46 Km² menjadi 35,35 Km² atau terjadi kehilangan seluas 22,12 Km². Perluasan pemukiman sebesar 16,15 Km² mengakibatkan perubahan guna lahan RTH seluas 3,4 Km², atau perubahan guna lahan RTH sebesar 56%-nya (12.3 Km²) diakibatkan oleh perluasan pembangunan prasarana jalan baru 38.87 Km² pada riset sebelumnya (M.Taufik, dkk. 2011) sehingga terjadi perubahan guna lahan RTH 8.9 Km² ditambah perubahan guna lahan RTH akibat perluasan pemukiman 3,4 Km².

6. Daftar Pustaka
Abdul Wahid Hasyim, (1995), Penetapan Faktor-Faktor Pengaruh Terhadap Peningkatan Harga Tanah, Tesis S2, PWK-ITB, Bandung
Brandt Tso, Paul Mather, (2009), Classification Methods For Remotely Sensed Data, Taylor & Francis Group, LLC
Eben V. Fodor, (2001), Better Not Bigger: How to Take Control of Urban Growth and Improve Your Community, New Society Publishers.
Forster, B.C., 1985, Principal And Rotated Component Analysis Of Urban Surface Reflectance, Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, 51, 475–477.
————-, (1988-2006), ER Mapper and ER Storage software and documentation is proprietary to Earth Resource Mapping Ltd.. Earth Resource Mapping Ltd.
Jayadinata, T. J. (1999), Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan, dan Wilayah. Penerbit ITB. Bandung.

CARA MUDAH MENGHITUNG LUAS LAHAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI GPS DAN CITRA SATELIT

Terjadinya perubahan fungsi lahan seolah baru mendapat perhatian ketika timbul permasalahan kota maupun wilayah mengganggu kenyamanan berkehidupan seperti terjadinya banjir, longsor, dan menurunnya total produksi hasil pertanian. Menyusutnya atau bahkan hilangnya luas lahan yang memiliki fungsi ruang terbuka hijau (rth), sawah atau lahan-lahan pertanian, beralih pada fungsi yang dianggap lebih produktif. Pada kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung luas rth telah berkurang 35% pada awal tahun 1970an – tahun 2000 menjadi kurang dari 10% (Sukawi, 2000), dan Malang berkisar 15%, yang seharusnya memiliki luas minimum 30% dari luas total kawasan. Sedangkan pada fungsi lahan pertanian dari tahun 1992-2002 terjadi alih fungsi lahan pertanian sebesar 64.000 ha/tahun dan 41,1% diantaranya alih fungsi sawah menjadi bukan sawah (Achmad Rachman, M. Noor, Isdiyanto A, 2009: dalam Kemenko, 2009). Perlu dilakukan teknik monitoring perubahan pada lahan skala besar, salah satunya dengan menggunakan teknologi GPS dan citra satelit.

Menghitung Luas Perubahan Fungsi Lahan Secara Cepat dan Akurat
Setiap bidang lahan memiliki fungsi sesuai peruntukannya seperti tertuang pada UURI Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Selain fungsi yang melekat pada lahan terdapat luas yang umumnya ditandai oleh batas-batas fisik pada lahan. Semenjak terjadinya perubahan fungsi pada luas bidang lahan yang sangat drastis sebagai dampak meningkatnya pertumbuhan penduduk perkotaan dan proses transformasi struktur ekonomi dari yang semula berbasiskan sektor primer (pertanian) menjadi sektor skunder dan tersier (industri, jasa dan perdagangan) guna memenuhi kebutuhan dasar manusia atau ‘butsarman’ berupa pembangunan sarana dan prasarana kota yang praktis tidak dapat dihindari lagi. Maka, agar luas fungsi lahan dapat terkontrol dan dikendalikan, dari sisi teknis harus dilakukan pengawasan secara periodik dan cepat sehingga informasi perubahan luas fungsi lahan dapat segera diketahui, dengan cara menampalkan (overlay) luas fungsi lahan amatan saat ini terhadap data luas fungsi lahan pada tahun sebelumnya yang telah tersimpan pada data base. Hal tersebut dapat dilakukan secara tepat karena bidang lahan memiliki posisi, koordinat, dan bentuk pada lokasi yang sama.
Didukung teknologi GPS (Global Positioning System) dengan tingkat akurasi yang sangat baik (error 1-3m) kesalahan hitung terhadap luas fungsi lahan dibawah 10%. Selain itu, pada GPS mampu dibenamkan citra resolusi tinggi berskala 1:5000 yang tentunya telah dilakukan georeference guna menambah tingkat akurasi data lebih sempurna pada saat melakukan proses penghitungan luas. Mendigitasi hingga menghitung luas bidang lahan menggunakan perangkat GPS dapat dilakukan dengan 8 langkah:










Memetakan Hasil Perubahan Lahan
Berbeda dengan cara manual yang masih menggunakan media kertas pada saat dilapangan dan beberapa catatan-catatan khusus agar mudah diingat, melalui teknologi GPS dan citra satelit bentuk-bentuk khusus permukaan lahan akan terekam dan tercatat sesuai keadaan di lapangan dan tidak perlu merasa kuatir salah pada saat penggambarannya. Bentuk lahan sangat beragam dan unik karena tidak pernah sama secara posisi, koordinat, maupun lokasinya, yang akan mempengaruhi total luasannya. Keunikan suatu lokasi juga ditunjukkan dengan terdapatnya ketinggian permukaan lahan (topografi) yang terekam oleh GPS sebagai salah satu fasilitas perangkat pengukur ketinggian (altimeter).
Hasil pemetaan lapangan (ground truth) melalui GPS dapat dengan mudah diunggah (upload) ataupun diunduh (download) untuk diproses lebih lanjut tergantung kebutuhan analisis yang diinginkan.

Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Teknologi GPS dan Citra Satelit
Saat ini berkembang dan bermunculan alat serta teknologi tinggi yang beragam hasil penyempurnaan yang terdahulu, salah satunya adalah teknologi GPS yang makin mengikuti kebutuhan penggunanya. Menggunakan sistem operasi windows yang sangat familiar bagi penyuka komputer sehingga memudahkan dalam pemrosesan data lebih lanjut.
Kelebihan dalam pemakaian GPS dan citra satelit dibanding dengan cara-cara manual terutama pada saat pengoperasian dan penyimpanan data di lapangan antara lain, pembuatan attribute (informasi yang melekat pada lahan), dan penggambaran bidang lahan (digitasi) yang mampu menghemat waktu, tenaga dan biaya.
Sedangkan kekurangannya, sangat bergantung kehadiran sinyal satelit (minimal 4 buah), dimana semakin banyak jumlah sinyal tertangkap oleh GPS akan memperkecil kesalahan hitung. Daya tangkap sinyal pada GPS sangat dipengaruhi sekelilingnya, semakin bebas dari bangunan, pepohonan besar, dan ketidakcerahan cuaca akan memberikan akurasi semakin baik.
Pada wilayah yang luas setara kota atau kabupaten, pengamatan perubahan fungsi lahan perlu melibatkan teknologi penginderaan jauh.

Memilih Jenis GPS
Sebelum menentukan GPS yang akan digunakan terlebih dahulu mengetahui jenisnya agar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dibedakan 3 macam berdasar jenisnya yaitu, 1) GPS Geodetic, memiliki sistem penerima (receivers) dual frekwensi yaitu mampu menangkap 2 sinyal L1 dan L2 bersamaan. GPS tersebut umumnya digunakan untuk keperluan survey dengan tingkat akurasi sangat tinggi dan tingkat kesalahan dibawah centi meter, misalnya kegiatan survey: konstruksi, jalan bebas hambatan, pengeboran, dan lain sebagainya. 2) GPS Mapping memiliki frekwensi tunggal (single frequency) yang berfungsi menerima dan mengumpulkan data-data spatial untuk kemudian dituangkan dalam kegiatan GIS/SIG (sistem informasi geografis). Tingkat ketelitian GPS ini termasuk medium (menengah) dengan kesalahan dibawah meter hingga beberapa meter (<10m). Perangkat ini biasa digunakan untuk kegiatan pemetaan. 3) GPS Navigasi biasa digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Perangkat ini memiliki kemampuan lebih rendah dari GPS Mapping karena keterbatasan pada track log maupun penyimpanan waypoint (www.garmin.com) dan bahkan fasilitas kompas ataupun altimeter tidak ditemui.
Untuk keperluan menghitung luas perubahan fungsi pada lahan cukup menggunakan GPS Mapping dengan tingkat kesalahan (error) hingga 1m.

Kebutuhan Teknologi GPS
Karakteristik permukaan atau tutupan lahan (land cover) tidak pernah sama di bumi ini karena setiap tempat memiliki koordinat yang berbeda. Perbedaan karakteristik itulah menjadikan banyak informasi yang dapat disampaikan. Dibandingkan dengan cara manual (tidak menggunakan GPS), proses penandaan (geocoding) dan penggambaran (digitasi) dengan menggunakan GPS menjadi lebih akurat misalnya; letak sumber mata air, letak fasilitas umum maupun sosial, letak monumen, letak bidang lahan, letak dan luas genangan, penggambaran batas luas bidang lahan, dlsb.
Dengan kemampuan teknologi GPS semakin tinggi, mampu membaca citra satelit resolusi tinggi yang dibenamkan di dalamnya, sehingga makin memudahkan memperoleh data yang diinginkan. Tidak lagi terjadi kesalahan lokasi, posisi, maupun bentuk pada batas-batas bidang amatan, seperti yang terjadi pada cara-cara manual. Teknologi GPS selain menjadi salah satu perangkat wajib di bidang ilmu penginderaan jauh juga digunakan berbagai bidang ilmu lain, pertanian, perencanaan, sipil, pengairan, dlsb. Transformasi data dari teknologi GPS bukan lagi menjadi kendala. Akhirnya, penggunaan teknologi GPS hanyalah sebuah pilihan.

Pustaka
1. GPSMAP 60CSx with sensors and maps owner’s manual, Garmin Ltd., 2. Garmin International, Inc. 1200 East 151st Street, Olathe, Kansas 66062, USA, 2005-2007
3. Getac PS535F user’s manual
4. GeoVISI GIS Textbook- GPS, PT. GeoVISI Mitratama & Garmin.
5. GPS Beginner’s Guide, Garmin, 2008
6. http://www.navigasi.net

Perwujudan Kota Lestari

Prakarsa DJPR Kementerian PU terkait perwujudan Kota Lestari berbasis masyarakat telah dilaksanakan sejak tahun 2009 dan terus akan dilanjutkan secara bertahap. Hal ini sekaligus sebagai upaya pembelajaran baik terhadap Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota dan masyarakat terkait.

Bandung

  1. Peta Hijau. Peta hijau sebagai upaya kreatif kesamaan fokus dan target penanganan masalah sampah Kota Bandung. Peta hijau adalah sebuah erobosan dalam memetakan potensi informasi secara partisipatif.
  2. Manajemen Sampah untuk Kawasan Rumah Tangga (MASUK RT). Pembuatan system Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM) dengan pendekatan edukatif, partisipatif, dan penguatan manajerial. Dalam kegiatan ini, dikenalkan Keranjang Takakura, merupakan alat pengomposan skala rumah tangga yang terdiri dari keranjang yang sudah berisi kompos. Merupakan temuan pakar kompos dari Jepang Koji Takakura (2005) saat riset di Surabaya.

PERWUJUDAN KOTA LESTARI (Lanjutan)

Yogyakarta

Pemukiman Kali Code di bawah jembatan Gondolayu merupakan kampung binaan Romo Mangun yang pada awalnya merupakan perkampungan kumuh yang kemudian menjelma menjadi permukiman yang berdaya dan mandiri. Konsep utama adalah menciptakan sungai bersih dan wisata air sebagai ikon kepada warga sekitar Kali Code maupun wisatawan.

Lingkup kegiatan meliputi pengembangan ekonomi kampung melalui perikanan empang turap, penyuluhan dan pelatihan terkait pemilihan benih, pengelolaan sampah, pembuatan olahan ikan dan manfaat gizi ikan.

Surabaya

Kegiatan penataan sebagai model/ujicoba kawasan eco city berwawasan budaya lokal. Boezem Morokrembangan dipilih karena fungsi boezem sebagai penyangga banjir kota. Selama puluhan tahun, lokasi di sekitar boezem dipenuhi permukiman yang berkembang secara incremental dengan status 80% terindikasi ilegal.

Kebiasaan buruk warga pada umumnya adalah membuang sampah dan limbah sembarangan, baik di boezem maupun di sungai maupun di selokan yang mengalir ke boezem. Selain itu sungai-sungai yang bermuara di boezem (Kali Greges, Kali Pesapen, dan Kali Purwodadi) juga membawa serta sampah dan limbah dari penduduk di bagian lain kota Surabaya.

Perwujudan Kota Lestari dengan berbagai motivasi meliputi (sedang dalam proses):

  1. Kampung Bumen. Kampung Bumen berada di Kelurahan Purbayan Kota Yogyakarta, dikelilingi kampung-kampung industri perak dan kerajinan rumahan lainnya. Dari kegiatan ini diharapkan terwujud rasa cinta kampung yang meningkat, melalui pengenalan sejarah kampung, berbagai aspek keruangan kampung yang memiliki karakter dan penyusunan rencana aksi penguatan kualitas fisik kampung.
  2. Pekalongan – Binatur Riverwalk. Binatur Riverwalk merupakan prakarsa penataan ruang pejalan kaki sepanjang Kali Asem Binatur. Pengembangan kawasan Binatur Riverwalk diimpikan menjadi sentra kawasan wisata tepi sungai yang berbasis pada penumbuhan ekonomi lokal dan perwujudan keseimbangan lingkungan.
  3. Keraton Buton – Bau-bau. Konsep yang ditawarkan dalam peningkatan penataan kawasan Keraton Buton adalah konservasi Keraton Buton yang terintegrasi dengan keberadaan masyarakat asli suku Buton. Kawasan Benteng Keraton Buton adalah jenis kawasan Intra Muros yakni kota dalam benteng yang harus dilestarikan. Benteng ini merupakan benteng terluas di Indonesia dan juga dunia dengan luas 22 ha dan 12 pintu gerbang (lawa) serta 16 buah bastion (baluara).
  4. Perencanaan tata  ruang partisipatif sebagai solusi konflik sosial nelayan di Kelolah, Palu. Hasil catatan YPR dan Serikat Nelayan Teluk Palu, setiap tahunnya terjadi penurunan pendapatan nelayan tradisional (nelayan kecil) 10-50% akibat beroperasinya alat tangkap besar di Teluk Palu.
  5. Optimalisasi lahan fasilitas umum sebagai tempat untuk meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat (lokasi Bogor). Perlunya konsep penyelenggaraan fasilitas umum di lingkungan komplek perumahan mempertimbangkan kondisi lingkungan di luar kompleks agar keberadaan fasilitas umum dapat menjadi sarana sosialisasi antar masyarakat kompleks dan di luar kompleks.
  6. Penataan Kali Mati Sonorejo (lokasi Sukoharjo). Kali Mati Sonorejo merupakan bekas aliran sungai Bengawan Solo yang tidak berfungsi lagi. Saat ini berubah menjadi genangan air yang sangat luar dan belum termanfaatkan. Akibatnya daerah di sekitarnya berpotensi menjadi endemi penyakit demam berdarah. Limbah industri kerajinan kulit yang dibuang di Kali Mati juga menimbulkan permasalahan lingkungan tersendiri. Kegiatan ini diharapkan dapat mewujudkan Kali Mati sebagai ruang terbuka hijau, area budidaya ikan dan pemancingan, serta pengembangan peternakan terpadu.
  7. Penyusunan program pembangunan Pulau Pramuka (lokasi Kepulauan Seribu). Pulau Pramuka saat ini mengemban fungsi pemerintahan, pariwisata dan permukiman. Sering ditemui tumpang tindih kepentingan pemanfaatan ruang. Pendekatan bottom up dalam penyusunan program perlu dilakukan sebagai upaya mewujudkan harmonisasi ruang pulau sesuai fungsinya.
  8. Pertanian Kota (lokasi Bandung). Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota dengan konsep urban farming di Komplek Perumahan Asri Padasuka Bandung melalui peran serta masyarakat yang diwujudkan dengan pertanian hortikultura.
  9. Pemanfaatan ruang terbukan Pondok Indah (lokasi Jakarta). Beberapa warga yang prihatin terhadap lingkungan, berkumpul dan membentuk komunitas Hijau Pondok Indah, mendorong aspek hijau dan ekologis menjadi program dan tindakan nyata. Komunitas Hijau Pondok Indah merupakan wadah untuk menampung ide dan kemampuan mengenai bagaimana membuat Pondok Indah lebih ramah lingkungan dan nyaman.

Green Building

Green Building merupakan suatu konsep dalam pengembangan suatu bangunan yang ramha lingkungan. dalam penerapan Green Building ini terdapat 6 aspek/parameter yang disebut sebagai sistem rating Indonesia yaitu GREENSHIP. GREENSHIP merupakan sebuah perangkat penilaian yang disusun oleh Green Building Council Indoensia (GBCI) untuk menentukan apakah suatu bangunan dapat dinyatakan layak bersertifikat “bangunan hijau” atau belum. enam aspek tersebut terdiri dari :

  1. Tepat Guna Lahan
  2. Efisiensi Energi & Refrigeran
  3. konservasi Air
  4. Sumber & Siklus Material
  5. Kualitas Udara & Kenyamanan Udara
Green Building

GREEN BUILDING

I. Tepat Guna Lahan (land Efficient)

Tepat guna lahan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Land Efficient :

  • Adanya vegetasi bangunan taman dengan luas area minimum 10 % kuas total lahan atau 50% dari ruang terbuka hijau
  • memiliki komposisi vegetasi 50% lahan tertutupi luasan pohon ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar, perdu setengah pohon, semak dalam ukuran dewasa dengan jenis tanaman

Site Selection

  • membangun di dalam kawasan perkotaan yang masih berdensitas rendah yaitu tingkat okupansi/hunian< 300 orang/Ha
  • pembangunan yang berlokasi dan melakukan revitalisasi diatas lahan yang bernilai negatif dan tak terpakai karena bekas pembangunan/dampak negatif pembangunan

Community Accessibility

  • terdapat minimal 7 jenis fasilitas umum dalam jarak pencapaian jalan utama dengan jarak pencapaian jalan utama sejauh 1500 m dari tapak.
  • membuka akses pejalan kaki ke minimal 3 fasilitas umum sejauh 300 m
  • menyediakan fasilitas/akses yang aman, nyaman dan bebas dari perpotongan akses kendaraan bermotor ke minimal 3 fasilitas umum atau dan dengan stasiun transportasi massal
  • membuka lantai dasar gedung sehingga dapat menjadi akses pejalan kaki yang aman dan nyaman selama minimum 10 jam sehari

Public Transportation

  • adanya halte atau stasiun transportasi umum dalam jangkauan 300 m (walking distance) dari gerbang lokasi bangunan
  • menyediakan shuttle bus untuk pengguna tetap gedung dengan jumlah unit minimum untuk 10% pengguna tetap gedung
  • menyediakan fasilitas jalur pedestrian didalam area gedung untuk menuju ke stasiun transportasi umum terdekat yang aman dan nyaman

Bicycle

  • Adanya perkir sepeda yang aman sebaganyak 1 unit parkir per 20 pengguna gedung
  • menyediakan shower sebanyak 1 unit untuk setiap 10 tempat parkir sepeda

Site Landscaping

  • Adanya area lansekap berupa vegetasi mnimal 40% luas total lahan termasuk taman diatas basementroof gardenterrace garden dan wall garden.
  • penambahan nilai sebesar 1 poin untuk setiap penambahan sebesar 10% area lansekap dari luas lahan di tolok ukur 1 diatasnya
  • pengguna tanaman lokal dalam provinsi sebesar 60% luas tajuk/jumlah tanaman

Micro Climate

  • menggunakan material pada aera atap gedung sehingga nilai albedo (daya refleksi panas matahari) minimum 0,3
  • manggunankan material pada area non atap sehingga nilai  albedo (daya refleksi panas matahari) minimum 0,3
  • desain menunjukkan adanya pelindungan pada sirkulasi utama pejalan kaki di daerah luar ruangan area luar ruang gedung
  • desain lansekap menunjukan adanya fitur yang mencegah terpaan angin kencang kepada pejalan kaki di daerah luar ruangan area gedung

Sistem Water Management

  • Pengurangan beban volume limpasan air hujan hingga 50% volume hujan harian
  • pengurangan beban volume limpasan air hujan hingga 85% total volume hujan harian
  • menunjukkan adanya upaya penanganan pengurangan beban banjir lingkungan dari luar lokasi bangunan
  • menggunakan teknologi yang dapat mengurangi debit limpasan air hujan

II. Efisiensi Energi

Efisiensi energi dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan cahaya dan ventilasi alami.

Cahaya alami

green-building-cahaya-alami

Ventilasi

green-building-ventilasi

III. Efisiensi Air

Efisiensi air dilakukan dengan cara,

Pemasangan meteran air

  • Pemasangan alat meteran air di setiap sistem keluaran sumber air bersih seperti sumber PDAM atau air tanah.
  • Pemasangan alat meteran air untuk memonitor keluaran sistem air daur ulang.
  • Pemasangan alat meteran air untuk mengukur tambahan dari keluaran air bersih apabila dari sistem daur ulang tidak mencukupi.

Mengurangi pemakaian air

  • Merencanakan kebutuhan air bersih dari sumber primer sebesar maksimum 80% dari SNI 03-7065-2005.

Penggunaan water fixture

  • Penggunaan water fixture pada tekanan air 3 bar, sejumlah minimum 25%, 50%, atau 75% dari jumlah unit total pengadaan produk water fixture.

Daur ulang air

  • Instalasi daur ulang air dengan kapasitas yang cukup untuk kebutuhan seluruh sistem flushing, irigasi dan make up water cooling tower.
 green-building-daur-ulang-air

Gambar 1 Daur ulang air

Penggunaan sumber air alternatif

  • Menggunakan salah satu dari tiga alternatif sebagai berikut: air kondensasi AC, air bekas wudhu, atau air hujan menjadi sumber air bersih setara standar PAM.

Penggunaan tangki air hujan

  • Instalasi tangki penyimpanan air hujan dengan berkapasitas 50%, 70%, ataupun 100% dari jumlah air hujan yang jatuh di atas atap bangunan sesuai dengan kondisi intensitas rata-rata curah hujan harian setempat menurut BMKG.
green-building-tangki-air-hujan

Gambar 2 Tangki air hujan

Efisiensi air melalui lansekap

  • Seluruh air yang digunakan untuk irigasi gedung tidak berasal dari sumber air tanah dan atau PDAM.
  • Menerapkan sistem instalasi untuk irigasi lansekap yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
green-building-aliran-sistem-air-hujan

Gambar 3 Aliran sistem efisiensi air

IV. Material Lokal dan Ramah Lingkungan

green-building-environmental-material

Pendingin Dasar

  • Tidak menggunakan Chloro Fluoro Carbon (CFC) sebagai refrigerant dan halon sebagai bahan pemadam kebakaran.

Penggunaan Ulang Bangunan dan Material

  • Menggunakan kembali semua material bekas setara minimal 10% atau 20% dari total biaya material baru fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dinding.

Produk dengan Proses Lingkungan

  • Menggunakan material yang bersertifikat ISO 14001 terbaru dan/atau sertifikasi lain yang setara bernilail 30% dari total biaya material.
  • Menggunakan material yang merupakan hasil proses daur ulang senilai minimal 5% dari total biaya material.
  • Menggunakan material yang bahan baku utamanya berasal dari sumber daya terbarukan minimal 2% dari total biaya material.

Penggunaan Non ODS

  • Tidak menggunakan bahan perusak ozon pada seluruh system bangunan.

Kayu Bersertifikat

  • Menggunakan bahan material kayu yang bersertifikat legal sesuai Peraturan Pemerintah asal kayu (Faktur Angkutan Kayu Olahan/FAKO, sertifikat perusahaan dll) dan sah terbebas dari perdagangan kayu illegal sebesar 100% biaya total material kayu.
  • Jika 30% dari butir diatas menggunakan kayu bersertifikasi dari pihak Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) atau Forest Stewardship Council (FSC).

Desain Modular

  • Desain yang menggunakan material modular atau pra fabrikasi (tidak termasuk equipment) sebesar 30% dari total biaya material.

Material Regional

  • Menggunakan material yang lokasi asal bahan baku utama atau fabrikasi berada di dalam radius 1000 km dari lokasi proyek.

V. Udara Sehat di Dalam Ruangan

green-building-indoor-air

Pemasukan Udara Luar Ruangan

  • Desain ruangan yang menunjukan adanya potensi introduksi udara luar minimal sesuai dengan standar SNI 03-6572-2001.

Pemantauan CO2

  • Untuk banquet, ruang rapat umum, general office (ruangan dengan kepadatan tinggi) dilengkapi dengan instalasi sensor gas karbondioksida (CO2) di dalam ruangan tidak lebih dari 1000 ppm. Sensor diletakkan 1,5 m di atas lantai dekat return air grill.

Pengendalian Asap Tembakau

  • Tidak menyediakan ruangan untuk merokok dan dilengkapi dengan surat pernyataan pemilik gedung untuk memasang tanda larangan merokok di seluruh area.

Polutan Kimia

  • Menggunakan cat dan coating yang mengandung kadar Volatile Organic Compounds (VOCs) rendah.
  • Menggunakan produk kayu komposit dan produk agrifiber, antara lain produk kayu lapis, papan partikel, papan serta, insulasi busa, dan laminating adhesive. Dengan syarat tanpa tambahan urea formaldehyde atau memiliki kadar emisi formaldehyde rendah.
  • Tidak menggunakan material yang mengandung asbes, merkuri, dan Styrofoam.

Pandangan ke Luar

  • Apabila 75% dari Net Lettable Area (NLA) menghadap langsung ke pemandangan luar yang dibatasi dan transparan apabila ditarik suatu garis lurus.

Kenyamanan Visual

  • Menggunakan lampu dengan iluminasi (tingkat pencahayaan) ruangan sesuai dengan SNI 03-6197-2000.

Kenyamanan termal

  • Menetapkan perencanaan kondisi termal ruangan secara umum pada suhu 25 derajat Celcius dan kelembaban relative 60%.

Level Akustik

  • Tingkat kebisingan pada 90% dari Nett Lettable Area (NLA).

Permasalahan Air Perkotaan

Permasalahan_Air_Perkotaan_-_Penebangan_Liar

Gambar 1 Penebangan Liar

Bagian Tengah : Lemahnya Pengendalian Pemanfaatan Sempadan Sungai

Tingginya tingkat urbanisasi dan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan pemukiman untuk kalangan menengah bawah telah mendorong tumbuhnya pemukiman kumuh di lahan-lahan potensial, termasuk di sempadan sungai. Keberadaan lingkungan kumuh tersebut secara visual mengganggu keindahan kota dan secara fisik menurunkan kualitas air di sungai, meninggikan sedimentasi, dan mempersempit badan sungai.

Permasalahan_Air_Perkotaan_-_Pemukiman_Kumuh

Gambar 2 Pemukiman Kumuh

Bagian Hilir : Kurangnya Luasan RTH dan Buruknya Kondisi Drainase

UUPR 26/2007 mengamanatkan penyediaan RTH perkotaan sebesar 30%. Ketersediaan RTH kota membantu menjamin ketersediaan air tanah perkotaan. Pembangunan kawasan terbangun berskala luas tanpa diikuti penambahan jaringan drainase akan memperbesar peluang terjadinya genangan ketika terjadi hujan besar. Banyaknya jaringan utilitas bawah tanah yang melintang di sepanjang saluran air, serta belum adanya kesadaran warga untuk menjaga kebersihan saluran air, memperburuk kondisi tersebut.

Permasalahan_Air_Perkotaan_-_Banjir

Gambar 3 Banjir

Permasalahan air perkotaan seperti yang disebutkan di atas, salah satunya dapat diselesaikan dengan cara pelestarian hutan pada bagian hulu, menerapkan konsep penataan kawasan pada bagian tengah, dan melestarikan ruang terbuka hijau pada bagian hilir.

Sampah di Perkotaan

Sampah

Gambar Kota Penuh Sampah

Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan tersumbatnya saluran air maupun pendangkalan sungai yang dapat menyebabkan bahaya banjir. Perilaku masyarakat yang sering kali membuang sampah ke sungai perlu mendapat perhatian sehingga bahaya banjir dapat dihindari.

Air minum dan udara yang bersih merupakan salah satu hal yang diperlukan manusia untuk hidup sehat. Pengelolaan sampah yang buruk dapat menjadi penyebab terjadinya polusi pada kedua unsur tersebut. Sampah dapat menyebabkan penyakit kulit maupun gangguan pencernaan pada manusia.

Apakah kita masih hidup nyaman dengan adanya polusi udara dan air serta rusaknya keindahan kota akibat sampah? Pilihannya ada pada kita.

Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan bijak, yaitu dengan menggunakan sampah untuk menjadi tenaga listrik, kompos, maupun kerajinan.

Sampah dapat diubah menjadi tenaga listrik melalui proses fisik dan proses kimiawi. Sampah dapat menghasilkan bio gas yang komponen utamanya adalah gas methan. Gas inilah yang akan menggerakkan turbin untuk pembangkit listrik.

Sampah organik juga dapat dimanfaatkan menjadi kompos yang menyuburkan tanah. Pengomposan merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah padat organik yang diterapkan di Indonesia karena  bahan baku terutama sampah perkotaan tersedia berlimpah.

Mengelola sampah melalui prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace) merupakan cara lain untuk mengurangi pencemaran akibat sampah, sebagai contoh dengan memanfaatkan sampah manjadi bentuk kerajinan tas, sandal, dompet, dan lain sebagainya.